Purple Reader

Iseng-iseng test di readyourcolor.com untuk mengetahui tipe pembaca seperti apakah saya. Testnya adalah dengan dikasih liat sinopsis-sinopsis buku, terus kita rate seberapa berminat buat baca buku tersebut.

Hasilnya, saya purple reader.

Jadi, menurut website ini, ada 6 jenis pembaca. Red reader si adrenaline junkie yang suka cerita-cerita intens dan menegangkan, blue reader si pembaca introspektif yang suka merenungkan makna hidup, yellow reader tipe penyayang (?) yang suka cerita-cerita emosional dan menyentuh hati, orange reader penggemar fantasi yang punya dunianya sendiri, green reader si realistis yang membaca untuk meningkatkan kualitas hidup, dan terakhir, purple reader, yang ehmmm agak susah didefinisikan.

Oke, jadi zuzur aja, selama ini saya menganggap diri ini punya selera bacaan yang lumayan berantakan. Karena punya latar belakang sebagai penggemar anime, saya berasumsi bakal suka buku-buku fantasi dengan world-building yang kompleks. Ternyata, dari sekian banyak buku fantasi yang coba saya mulai, cuma segelintir doang yang mampu saya selesaikan. Entah kenapa tiap kali baca fantasy, pikiran saya selalu, I couldn’t take it seriously. Berpaling dari fantasi, saya coba cerita-cerita yang realistis, kehidupan sehari-hari, ternyata malah bikin saya terkantuk-kantuk saking bosannya. Mau coba sci-fi atau dystopian, saya cuma tertarik sama buku-buku lawas semacam Brave New World atau 1984, sedangkan fiksi-fiksi modern dengan plot yang kompleks malah ga terlalu suka. Saya coba mystery, baca cerita-cerita detektif, ehh ga terlalu menikmati menjawab teka-teki. Thriller kadang-kadang suka karena seru (saya termasuk red reader juga dengan persentase 75%), tapi kenikmatannya sebatas pengalaman membacanya doang. Selesai baca biasanya langsung saya lupain bukunya kalau tidak ada pembahasan philosophical yang lebih dalam. Romance, jangan tanya, saya emosi mulu bawaannya kalo baca kisah percintaan xD

Intinya, ngga jelas.

*Reader: GAUSAH BACA BUKU SEKALIAN MAEMUNAAAAH 😡

Dan akhirnya test ini menjawab pertanyaan saya.

Ketika baca buku (atau nonton film/anime), saya engga terlalu mempermasalahkan plot, karakter, world-building, dan aspek-aspek teknis lainnya. Yang saya cari dalam sebuah karya fiksi adalah suatu ide, suatu gagasan, suatu konsep, apa pun itu, yang bisa mengguncang isi pikiran saya. Ibarat bom atom, meledak, DUARRRR, saya mendambakan bacaan yang liar, yang tidak konvensional, tidak nurut norma, dan bisa memorak-porandakan (?) kepercayaan kita. Mungkin itu cerita-cerita absurd, magical-realism yang kayak mimpi pas lagi demam, cerita-cerita plenger yang penulisnya kaya lagi mabuk kecubung (?). Fiksi spekulatif, alegori, satir, kritik sosial, segala jenis tulisan yang thought-provoking, saya suka.

Ini juga menjawab pertanyaan kenapa ada buku-buku yang, meski saya akui ceritanya bagus, penulisan rapi, semua aspeknya oke, perfect malahan, 10/10, tapi di saya jatuhnya biasa aja? Ternyata cuma masalah selera. Selagi ceritanya tidak terlalu bikin ‘mikir’, maka tidak akan meninggalkan bekas. Saya juga tidak terlalu ngefans sama cerita-cerita yang konvensional. Saya menginginkan sesuatu yang dar-der-dor, yang unik dan tidak biasa. Banyak cacat pun ga masalah, karena tulisan yang terlalu rapi itu seringnya justru membosankan WKWKWKWKW.

beberapa buku kesukaan saya

Ambil contoh buku favorit saya: Brave New World. Buku itu secara penulisan tidak sempurna. Di bab awal, scene berganti dengan sangat cepat; satu dialog, pindah scene. Satu dialog lagi, pindah scene, dan tidak disebutin siapa yang ngomong, sampe bikin pusing para pembaca. Belum lagi tokoh utamanya berganti di tengah-tengah cerita. Tapi saya ngga mempermasalahkan itu, karena saya suka sama konsep yang diusung, yakni tentang sebuah dunia yang menyingkirkan semua hal-hal negatif dari hidup manusia, dan bikin kita bertanya-tanya bener ngga sih kita menginginkan hidup yang seperti ini, apakah sejatinya kebahagiaan itu, apa artinya kebahagiaan kalau engga disertai penderitaan dan kesedihan, hal-hal semacam itu.

Atau buku lainnya, The Long Walk. Buku itu sebetulnya plotnya minimalis sekali, kalau engga mau dibilang tanpa plot. Cuma seratus remaja berjalan kaki sampai mati, dan isinya 99% cuma lamunan si tokoh utama dan obrolan ngalor-ngidul. Kedengarannya seperti buang-buang waktu. Tapi saya suka, mungkin karena suasananya, atmosfirnya, membayangkan kematian berada tepat di depan mata, sambil merenungkan barangkali ini bukan tentang jalan kaki. Mungkin ini tentang peperangan, atau tentang perjalanan kehidupan yang pada akhirnya akan berujung pada kematian. Dan saya udah baca buku itu tiga kali, saking sukanya.

Dan setelah saya pikir-pikir ulang, ternyata selera saya dalam film pun sama aja. Saya suka film-film kayak A Clockwork Orange, The Truman Show, Mr Nobody, dan ketika ditanya kenapa suka, jawaban saya pasti kurang lebih adalah karena suka sama gagasan yang disampaikan.

Sekarang setelah tau seleranya kaya gimana, mudah-mudahan saya bisa memilih bacaan dengan lebih baik (dan mengurangi menghamburkan isi dompet).