Miskonsepsi MBTI

 MBTI bukan cuma tes kepribadian!

Salah satu miskonsepsi soal MBTI, yaitu sering dipandang semata-mata sebagai tes kepribadian. Yang mana ketika hasilnya tidak sesuai kenyataan, maka orang cenderung meragukan keseluruhan teorinya. Padahal, MBTI adalah teori tentang cara berpikir manusia. Butuh pemahaman mendalam. Tes kepribadian cuma titik awal aja untuk memberi gambaran, dan memang tidak selalu akurat. Ya gimana ya... yang jadi pertanyaan di tes-tes seringkali mengacu pada perilaku yang bisa berubah-ubah tergantung situasi. Kalau mood beda dikit, hasilnya pun bisa beda. Manusia terlalu kompleks untuk dinilai dalam satu skenario aja. Makanya sebelum menentukan tipe MBTI, memang butuh pemahaman tentang fungsi kognitif dan pengenalan akan diri sendiri. Butuh waktu dan proses.

Ngomong-ngomong soal fungsi kognitif, ini adalah miskonsepsi lain tentang MBTI. Pada dasarnya, inti (core) MBTI ada di fungsi kogiitif. Bukan berapa persen introvert atau berapa persen ekstrovert, berapa persen sensing atau berapa persen intuitive, dan seterusnya. No, itu melenceng jauh dari teori asli MBTI. Yang sering muncul di website-website (baca: 16personalities) itu sebetulnya cuma OCEAN/Big 5 ganti nama jadi MBTI doang. Ngga ada tuh tipe MBTI diukur secara dikotomi, karena tiap manusia adalah kombinasi unik dari semuanya.

Dulunya saya juga mulai dari 16personalities, sih. Gara-gara itu, saya sempat percaya bahwa saya ini INFJ selama beberapa waktu lamanya, semata-mata karena saya ambil test ketika lagi getol-getolnya menata hidup. Bikin planning, bikin to-do list, menetapkan target harian, dan perilaku seperti ini sering dikaitkan dengan judging. Ternyata salah besar. Saya adalah INFP, yang secara fungsi kognitif, sama sekali ga ada mirip-miripnya dengan INFJ. Padahal cuma beda satu huruf, P dengan J, tapi keseluruhan sistemnya beda total. Dan ternyata, yang saya kira judging itu sebenernya cuma fungsi Si dan Te yang lagi berkembang.

Miskonsepsi lain adalah bahwa tipe MBTI bisa berubah seiring waktu. MBTI itu sebetulnya adalah cara kerja otak, dan itu udah terbentuk sejak lahir. Lingkungan bisa menentukan ke arah mana kamu berkembang, tapi MBTI bagaikan kode yang sudah tertulis dalam DNA—tidak akan berubah. Seorang ENTP ngga akan sekonyong-konyong berubah jadi ESTP hanya karena dia lagi belajar ilmu praktis. Ne terbiasa membaca pola dan menghubungkan segala hal, dan tidak akan berubah menjadi Se yang melihat segala sesuatu apa adanya. Ya bisa sih sesekali ENTP menggunakan fungsi Se, tapi itu ibaratnya melawan kodrat alamiah mereka. Butuh effort yang gede, dan akan menguras energi. Lama-lama bakal capek, dan ujung-ujungnya kembali lagi ke setelan pabrik.

Kalau memang merasa ada yang berubah dalam perilaku, bisa jadi kita lagi mengembangkan fungsi kognitif yang sejak dulu jarang dipake. Ambil contoh INFP. Pada kondisi normal, INFP itu selow, tenang, cenderung suka menunda, dan kurang tegas. Tapi ada momen ketika INFP mendadak jadi satset, disiplin, kaku, mudah marah, dan agak bossy, seolah-olah sifatnya mendadak berubah 180°. Tau kenapa? Karena fungsi Te, yang biasanya ditekan habis-habisan oleh Fi, sedang muncul ke permukaan. Penyebabnya macam-macam. Bisa jadi karena stress, atau berada dalam kondisi di mana tiga fungsi lainnya (Fi-Ne-Si) dianggap tidak mampu mengatasi masalah sehingga Te terpaksa muncul, atau bisa juga karena usia yang udah matang. Di momen-momen seperti ini—yang biasa disebut grip—mungkin si INFP “kesannya” berubah jadi ISTJ atau ESTJ versi tidak sehat, di saat dia sebetulnya masih seorang INFP.

Contoh lain, seorang ISFJ normalnya adalah pribadi yang hangat dan care terhadap orang lain. Tapi ada momen-momen tertentu di mana ISFJ—yang punya fungsi kognitif Si-Fe-Ti-Ne—mulai mengisolasi diri dan kehilangan kepeduliannya pada orang lain. Fungsi Fe dikesampingkan entah ke mana, sehingga yang terjadi adalah, Si dan Ti mengambil alih proses kognitif dalam sebuah pusaran tak berujung. ISFJ pun berubah jadi pribadi yang dingin, perfeksionis, overthinking, terlalu kritis, terlalu analitis. Fase ini dinamakan loop.

Inilah salah satu penyebab kenapa saya suka ngulik MBTI. MBTI menyediakan perspektif yang luas dalam menilai kepribadian kita, jadi engga cuma dinilai dari satu sisi aja. Dalam kondisi normal dan dalam kondisi stress perilaku kita bisa beda. Waktu lagi sendirian dan lagi menghadapi orang lain pun juga bisa beda. Satu fungsi kognitif yang sama, ketika dipadankan dengan fungsi kognitif lain yang berbeda, hasilnya bisa jadi sangat berbeda. Kehidupan ini punya banyak konteks, dan kepribadian kita, yang memang tidak pernah statis ini, akan selalu menyesuaikan bentuknya dengan keadaan.